Tampilkan postingan dengan label tempat wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tempat wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Jalan-jalan Ke Sragen


Bumi Sukowati, sebutan lain dari kabupaten Sragen. Nama tersebut merupakan nama yang telah digunakan pada masa pemerintahan Kerajaan Surakarta, yang pada akhirnya berubah nama menjadi Sragen. Kabupaten Sragen terletak pada lembah aliran sungai bengawan Solo yang mengalir ke arah timur. Ada pun batasan alam di 2 mata angin lainnya adalah gununga lawu di selatan, utara perbukitan yang merupakan sistem pegunungan Kendeng. Luas wilayah Kabupaten Sragen adalah 941,55 km2 yang terbagi dalam 20 kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah 208 desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Sragen.

Berdirinya Kabupaten Sragen melalui pengorbanan serta rasa cinta tanah air yang sangat dalam. Bagaimana tidak? Berdirinya kabupaten ini berkaitan dengan sejarah bangsa, ketika penjajah Belanda masih menguasai Indonesia. Jadi, awal mula berdirinya Kabupaten Sragen ini berkaitan dengan pergerakan Pangeran Mangkubumi, yang kelak akan menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang melakukan perlawanan bagi penjajahan kolonial Belanda.

Pangeran Mangkubumi, yang tak lain adalah adik dari Sunan Pakubuwono II yang berasal dari Mataram, sangat benci dengan pemerintah Kolonial Belanda karena menindas dan menjajah rakyat Jawa. Pada masa itu sikap Belanda sangat kejam, rakyat dijadikan budak dan pesuruh tidak diberi gaji dan penghidupan layak. Mereka senantiasa bekerja dan tidak ada waktu sedikit pun untuk beristirahat. Hal inilah yang mendasari kemarahan pangeran Mangkubumi. Beliau pada akhirnya memutuskan untuk mengadakan perang dengan pemerntah kolonial. Peperangan ini dimulai dari tahun 1746 sampai 1757.

Dalam masa-masa peperangan itu, pangeran Mangkubumi mengadakan perjalanan hingga sampai ke tlatah Sukowati. Di sinilah, kelak pangeran Mangkubumi akan dikenal sebagai pangeran Sukowati serta membentuk pemerintahan pemberontakan di sana. Kejadian demi kejadian pun terus bergulir dari tahun ke tahun, hingga akhirnya Sragen pun menjadi sebuah daerah otonom dan memiliki 20 kecamatan.

Jumat, 26 September 2014

Mengenai Magelang (2)




Selain banyaknya destinasi wisata kota, Magelang pun punya banyak makanan khas yang patut dicoba, seperti kupat tahu, sop senerek, mangut lele, nasi sop empal, Es krim mahkota, maupun es semanggi. Kupat tahu khas Magelang berisi potongan tahu putih yang sudah digoreng, ketupat, gimbal, dilengkapi dengan irisan kubis dan taburan taoge, seledri serta bawang goreng. Sekilas kelihatan seperti lontong tahu gimbal, tetapi kalau sudah merasakan bumbunya pasti akan menemukan perbedaan. Kuah kupat Tahu Magelang encer tanpa rasa bawang yang dominan. Rasanya gurih dan tidak terlalu manis.


Kemudian ada Sop Senerek yang tak lain adalah Sop kacang Merah. Sop senerek terdiri dari nasi, kacang merah, wortel, irisan daging sapi dan bayam. Pada dasarnya pembuatan sop senerek sama seperti sop lainnya, bedanya adalah kacang merah sebagai bahan dasar sop senerek harus direndam semalaman agar empuk. Senerek ini merupakan perpaduan kuliner antara Magelang dan Belanda karena jaman penjajahan dulu, orang-orang Belanda terlalu lama berada di Magelang. Senerek merupakan kata yang diadaptasi dari Belanda yaitu Snert yang artinya kacang polong.


Kemudian ada Mangut Lele. Berbeda dengan mangut Semarang dan Bantul, yang memakai ikan pari yang telah dipanggang, mangut Magelang justru menggunakan ikan lele segar sebagai bahannya. 



Mengenai Magelang (1)



Ada yang berpendapat bahwa nama Magelang berasal dari kisah orang keling / Kalingga ke Jawa yang mengenakan hiasan gelang dihidungnya. Kata gelang, mendapatkan awalan “MA” yang menyatakan kata kerja memakai (menggunakan), maka berarti “MEMAKAI GELANG”. Menyimpulkan Magelang berarti daerah yang didatangi orang-orang yang menggunakan atau memakai gelang.

Adalagi yang berpendapat bahwa nama Magelang berawal dari kisah dikepungnya Kyai Sepanjang oleh prajurit Mataran saat “TEMU GELAP” atau rapat yang membentuk lingkaran. Adapula yang mengaitkan nama Magelang itu dengan kondisi geografis daerah kedu “cumlorot” yang ternyata semakna dengan kata gelang.

Magelang merupakan daerah yang asri. Di sini, terletak sebuah peninggalan besar masa lampau yang menjadi destinasi wisata terkenal bagi orang-orang, yaitu Candi Borobudur. Selain Candi Borobudur, ada wisata bukit Tidar, Wisata Taman Panca Arga, Wisata Taman kyai Langgeng, dan masih banyak lagi. Utamanya untu wisata candi, maupun alam, di Magelang ada begitu banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi.

Sebagai contoh adalah wisata taman Kyai Langgeng. Taman wisata ini memiliki ratusan koleksi tanaman langka yang bisa dimanfaatkan sebagai obyek penelitian, patung-patung Dinosaurus dalam ukuran asli, aneka fasilitas permainan, serta yang terbaru adalah prototipe pesawat terbang. Di Taman Kyai Langgeng, khususnya pada hari libur anda akan disuguhi dengan berbagai atraksi kesenian daerah maupun musik, selain arena permainan untuk anak-anak dan keluarga.

Kamis, 25 September 2014

Wisata di Kota Tegal




Tegal, satu dari banyak kota yang berada di kawasan Pantura atau pantai utara. Biasanya, kota ini menjadi salah satu dari beberapa kota yang sering dilewati oleh para pemudik saat pulang ketika hari libur lebaran. Dengan letaknya yang strategis, berada di daerah pantai, kota tegal memiliki sebuah pelabuhan yang diperkirakan merupakan peninggalan saat jaman Belanda.



Di kawasan Tegal kota, ada sebuah pantai indah yang menjadi kawasan wisata di sana, tak lain adalah PAI kependekan dari Pantai Alam Indah. Letak Pantai ini di jalan singgir kelurahan mintaragen kecamatan Tegal timur, kabupaten TEGAL, dan berada di lingkungan perkotaan. PAI diresmikan sebagai obyek wisata di jalur pantura pada tahun 1978.



Selain PAI, ada objek Pemandian Air Panas yang bernam GUCI. Sekilas kedengaran seperti sebuah merk terkenal dari luar, kan, yang namanya GUCCI itu, lho. Tapi ini beda. Iya, sangat beda. Karena GUCI yang ada di Tegal merupakan obyek wisata yang berada di lereng (kaki) gunung Slamet bagian utara, tepatnya di sebuh desa bernama desa Guci. Tempat ini menunjukkan  keindahan panorama alam pegununungan. Dan karena memang berada di daerah gunung, udara di sekitar sana pun sejuk serta di sekitar sana terdapat banyak pohon pinus. Di pemandian air Panas ini, kita bisa  merasakan  keistimewaan air hangat alami dan jenih.

Setelah PAI dan GUCI, ada lagi Purwahamba Indah. Seperti PAI, Purwahamba pun menawarkan keindahan pantai di daerah Tegal. Letaknya di kecamatan Suradadi kabupaten Tegal dan memiliki cukup banyak fasilitas, mulai dari kolam renang, taman bermain anak anak, kebun binatang mini semuanya ada di dalam area, dan masih banyak yang lainya. Jika melewati kota Tegal, cobalah untuk mampir dan mencicipi makanan khas sekaligus keindahan tempat wisata di sana. :D

Tahu Aci Yang Menggigit dan Teh Poci Yang Pas


Warung makan Tegal, rumah makan Tegal..., sepertinya sudah tidak asing bagi kita untuk mendengar kata “Warteg”. Tentunya hal pertama kali yang muncul dalam pikiran kita mengenai warteg adalah sebuah tempat makan yang menjual berbagai macam masakan rumahan dengan beragam macam lauk, nasi ambil sendiri, dan harganya murah. Tapi, saya tidak akan membahas mengenai warteg-nya, melainkan kotanya sendiri, Tegal.

Sudah lama sekali kita mengenal kalau orang Tegal itu memiliki logat yang unik dan khas. Mereka masih termasuk suku jawa, tetapi logat dan cara mereka berbicara jauh berbeda dari kebanyakan orang jawa yang tinggal di tengah-tengah, apalagi daerah solo atau yogyakarta. Logat mereka benar-benar unik dan khas! Ciri yang benar-benar patut dikagumi. Sebenarnya, tidak hanya orang Tegal saja yang memiliki logat unik ini, melainkan kota-kota atau daerah perbatasan antara jawa tengah dengan jawa Barat, kebanyakan masyarakatnya memang memiliki logat yang unik didenga darn khas untuk diucapkan. Saya sendiri punya kawan dari Tegal, sulit untuk meniru cara bicaranya yang cepat dan terkesan nyablak. Tapi itulah keanekaragaman. Unik, kaya, dan mengesankan.

Yang ingin saya bahas mengenai Tegal adalah makanan dan minuman khas dari sana. Seorang kawan saya sering membawakannya kalau dia pulang dari Tegal, sebesek tahu kuning besar serta seplastik tepung kanji berbau khas. (Kalau ditaruh di dalam mobil, dijamin, baunya pasti nggak enak). Itu tak lain adalah tahu aci bu murni. Waktu pertama kali kawan saya membelikan tahu itu, saya ngerasa aneh dan cenderung tidak suka, apalagi dengan bau acinya (tepung yang agak lengket dan terbuat dari tepung tapioka yang sudah dibumbui). Namun, setelah kawan saya mengajari bagaimana caranya memasukkan aci ke dalam tahu dan menggorengnya hingga keemasan, WOW! Rasanya benar-benar enak!


Tahu acinya terasa gurih dan sedikit garing. Bila dimakan dengan sambal kecap, maka rasanya akan bertambah enak. Selain tahu aci, oleh-oleh lain yang sering dibawakan oleh teman saya dari Tegal adalah teh. Yah..., teh biasa yaitu teh Tang yang jenisnya teh premium yang harus diseduh biasa. Kalau teman bilang sih, jenis teh poci. Lagi-lagi saya sangsi dengan rasa tehnya, terutama karena kelurga saya sudah menyukai satu teh merk tertentu. Yah..., akhirnya agak lama deh sampai saya mencipi teh ini. Wah..., lagi-lagi saya terjebak dengan pemikiran saya sendiri.


Rasa tehnya enak. Ada sepat dan pahitnya sedikit, serta bau wanginya pun menyengat. Teh ini benar-benar cocok dinikmati bersama sepiring tahu aci yang baru saja digoreng. Kalau kalian menginginkan tahu aci, bisa buat sendiri. Ada banyak resepnya bertebaran di mbah google. Namun, kalau punya teman yang domisili di Tegal dan malas membuat sendiri, coba kontak temannya deh dan rayu, supaya kalau balik dari kampung halaman, dibawain satu besek tahu aci sama teh premium. Gak akan nyesel! :))) *tapi ntar uang oleh-olehnya diganti, ya. Kasian yang mbawain kalau nitip oleh-oleh tapi gak dibayar*

Rabu, 24 September 2014

Kepulauan Karimun Jawa



Kepulauan Karimun Jawa terletak di utara pulau Jawa dan berada dalam naungan Kabupaten Jepara. Disebut sebagai kepulauan, karena memang karimun jawa terdiri dari banyak pulau. Terdapat sekitar 27 pulau di kepulauan ini dengan pulau utama sebagai pusatnya. Untuk sampai ke karimun jawa, kita bisa memakai kapal feri yang perjalanannya mencapai 6 jam, atau kapal cepat yang hanya membutuhkan waktu 2 jam perjalanan saja.



Di Karimun Jawa ini terdapat berbagai tempat atau titik penyelaman yang bisa dilihat oleh para wisatawan yang gemar menyelam. Selain itu, ada juga tempat penangkaran ikan hiu di sini, serta taman nasional karimun jawa yang terdiri dari 22 gugusan kepulauan karimun jawa. Tempat ini terbilang sangat elok dan indah. Rugi kalau tidak pernah datang ke sana! Namun, untuk datang ke karimun jawa ini, sebaiknya mempersiapkan beberapa hal, terutama mengenai keberangkatan. Pilihlah waktu di mana cuaca memang benar-benar baik, sehingga keberangkatan maupun kepulangan dari kepulauan karimun jawab tidak terganggu.

Kadang, karena cuaca buruk terutama saat musim hujan, kita bisa terjebak selama berhari-hari di sana hingga tidak bisa pulang. Selain itu, pastikan juga mengenai peralatan dan perbekalan yang akan dibawa ke sana. Sesampainya di Karimun Jawa perhatikan pula kebersihan dan kesopanan. Rata-rata masyarakat yang bermukim di karimum jawa merupakan orang-orang yang memperhatikan norma dalam bertingkah laku.

Keindahan Dataran Tinggi Dieng

Keindahan dataran tinggi Dieng sudah dikenal oleh banyak orang, hingga dataran tersebut pun sering menuai pujian seperti negeri di atas awan atau pun surga tersembunyi. Suasananya yang sejuk dan dingin, dengan hamparan pohon serta perkebunan, membuat tanah tersebut elok dipandang. Ada beberapa tempat wisata di Dieng yang wajib dikunjungi, seperti telaga warna, bukit si kunir, Kawah Sikidang, maupun Candi Arjuna.

 

Telaga Warna, seperti namanya, telaga ini memiliki daya tarik pada bagian warnanya yang bisa berubah-ubah. Suatu ketika warnanya hijau, di lain waktu bisa menjadi kuning, pink, biru, dan warna-warna lainnya. Hal ini dikarenakan kandungan belerang yang cukup tinggi di dalam air telaga tersebut, sehingga saat tertimpa cahaya matahari, air di telaga warna akan terlihat berwarna-warni. Waktu terbaik untuk mengunjungi Telaga Warna adalah pagi hingga siang hari. Di sore hari, kabut kerap kali turun sehingga menghalangi pemandangan indah Telaga Warna. Telaga Warna berlokasi di Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.


Kemudian, ada lagi Bukit Si Kunir. Tempat ini merupakan tempat yang paling bagus untuk melihat sunrise. Para pendatang bisa trekking di jalan setapak berbatu untuk mencapai puncak bukti si kunir. Namun, untuk mencapai ke atas, sebaiknya waspada dan hati-hati. Selain udaranya yang dingin menggigit, yaitu antara 10 – 15 derajat celcius, di sisi kiri jalan terdapat jurang yang dalam. Disarankan, untuk memakai jasa pemandu saat pendakian. Namun, percayalah, usai sampai di puncak bukit dan melihat sunrise semua kelelahan dalam pendakian bisa terbayarkan.


Lalu ada juga Kawah Sikidang di mana ini merupakan kawah vulkanik yang masih aktif. Pengunjung harus hati-hati saat berjalan di sekitaran tanah tandus di sana karena terdapat lubang bekas kawah yang ada di mana-mana dan berisi air mendidih. Berbahaya sekali jika tanah seperti ini terinjak hingga membuat kita jatuh terperosok ke dalam sana. Dan di ujung kompleks, sebuah kolam besar dengan air yang bercampur lumpur abu-abu terus menggelegak dan mengepulkan asap putih. Sebuah pagar bambu dibangun untuk menjadi pengaman. Bau belerang tajam menyengat. Indah, namun berbahaya. Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan Kawah Sikidang.

Selasa, 23 September 2014

Kampung Seni Lerep


Kampung Seni Lerep merupakan komunitas budaya yang berada di desa lerep, sebuah desa berhawa sejuk di lereng Gunung Ungaran. Dengan luas 10.000 m2, kampung seni ini pertama kali digagas dan direalisasikan oleh Handoko sejak tahun 2006. Seorang pecinta seni dengan keahlian artefak-artefak seperti: kayu, keramik, furniture Jawa dan China, serta batik pesisiran Jawa dan seni rupa modern dan kontemporer Indonesia yang asli Semarang.

 Pembentukan kampung seni ini bukan hanya untuk memperkenalkan atau menjaga budaya, atau pun memaknai seni sebagai warisan budaya. Lebih dari itu, kampung seni ini tercipta untuk bisa menjadi tempat menyemai berbagai buah pikiran hingga memaknai sebuah proses kerja budaya sebagai ‘human intellectual work’.


Banyak fasilitas yang bisa dinikmati dalam Kampung Seni Lerep, antara lain Joglo Indrakila, Joglo Ondrowina, Griya Gladi dan Teater Terbuka. Joglo Indrakila adalah bangunan utama yang ada di Kampung Seni Lerep. Luas bangunan Joglo Indrakila yaitu 400 meter persegi. Di dalam bangunan setinggi dua lantai tersebut, dipamerkan aneka barang hasil seni. Kemudian ada Griya Gladi yang merupakan wilayah yang terdiri dari tiga bangunan kecil. Masing-masing bangunan memiliki luas 20 meter persegi. Di dalam Griya Gladi inilah para artis seni biasanya menumpahkan jiwanya dalam sebuah karya.

Lalu, ada juga Teater Terbuka, tempat pertunjukan seni dipentaskan. Di atas lahan seluas 150 meter persegi, Teater Terbuka dijadikan sebagai tempat pentas seni, baik pertunjukkan modern maupun tradisional.

Curug Lawe


Banyak terdapat air terjun di sekitar Gunung Ungaran, salah satunya adalah Curug Lawe. Curug ini berada di sebelah utara anak-anak Gunung Ungaran dan menjadi hulu Kali Banjir Kanal Barat atau Kali Garang di kota Semarang. Dinamakan Curug Lawe karena konon jumlah air terjun yang ada, baik dari yang besar hingga yang terkecil berjumlah 25 buah (yang dalam bahasa jawanya Selawe).

Curug Lawe ini terletak di desa Kalisidi, Kabupaten Semarang. Perjalanan menuju ke Curug Lawe cukup mudah. Sambil menyusuri jalan Raya Gunungpati, kita bisa mencari petunjuk arah menuju ke Curug Lawe yang kemudian mengantarkan menuju Desa Kalisidi. Dari jalan raya, dibutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk mencapai pintu masuk air terjun. Di pintu masuk, kita hanya perlu membayar retribusi sebesar Rp 4.000/orang.

Jalur menuju curug cukup jauh, memakan waktu dari 1 – 1,5 jam perjalanan. Jalur yang dilewati pun bervariasi, mulai dari aliran sungai hingga menyeberang sungai. Jalan pertama yang kita lewati adalah jalan saluran air. Jalur ini cukup menyenangkan, karena kita bisa menikmati aliran air sungai dan pemandangan hijaunya hutan. Selain itu, kita juga bisa berfoto di jembatan kayu yang memiliki pemandangan yang sanga bagus. Sesampainya di bangunan tempat pengaturan debit air, kita akan masuk ke jalur kedua.

Setelah jalur aliran air, kita akan melewati jalan setapak. Akan ada petunjuk arah yang membantu kita dalam menyusuri jalan. Kemudian, nantinya akan ada jalan bercabang yang terbagi menjadi dua. Yang pertama menuju Curug Benowo, dan yang kedua menuju ke Curug Lawe. Kalian bisa memilih yang mana saja, entah itu curug benowo atau Curug Lawe. Kalau memilih curug benowo dulu, kita bisa langsung menuju ke curug lawe tanpa kembali ke jalur percabangan.


Pemandangan Curug Lawe sangat indah, disertai debit air jatuh yang cukup deras. Curug Lawe berada dalam tebing yang melingkar. Dibandingkan dengan Curug Benowo, pemandangan Curug Lawe lebih eksotik. Seakan-akan memberikan pesona pada pandangan Anda. Keindahan alam di sana setimpal dengan rasa lelah yang Anda dapatkan sewaktu berjalan kaki menuju curug tersebut.

Jumat, 19 September 2014

Jajanan Pasar (lagi) 2


Jangan bosan-bosan dengan artikel jajanan pasar, ya. Karena memang jajanan pasar itu buanyak dan nggak akan pernah bosan untuk disebutin satu-satu. Nah, setelah yang lalu kita membahas klepon, timus, lemper, dan arem-arem. Enaknya sekarang kita membahas tentang apa, ya? Wah, tenang. Masih ada banyak kok stok jajanan pasarnya.



Siapa yang pernah makan sosis solo? Yep, namanya sosis solo tapi bentuknya nggak kayak sosis, tapi lebih mirip ke risoles dalam versi lebih kecil dan padat. Sampai sekarang pun saya heran, kenapa makanan ini disebut sosis solo. Namun, dari pada pusing memikirkan soal asal namanya, lebih baik kita snatap saja sosis solo ini! Isinya berupa daging ayam cincang dengan rasa manis dan gurih. Nyemm!! Sekali lahap, pasti ingin tambah satu lagi.



Kemudian dilanjut dengan semar mendem. Lagi-lagi di sini saya kena serangan bingung juga. Semar mendem, maksudnya semar mabuk atau bagaimana ya? Bentuknya sih seperti persegi panjang yang gendut. Semar mendem merupakan makanan yang terdiri dari kulit dadar lalu diisi dengan ketan serta cacahan ayam. Rasanya bercampur antara asin kulit dadar, rasa datar ketan dan manis cacahan ayam. Sekilas, rasanya sedikit mengingatkan saya dengan lemper.


Ada juga lapis. Pernah makan lapis? Ini terbuat dari tepung ketan dan sangat manis dengan warna yang bermacam-macam tiap lapisannya. Dari dulu, saya suka liat warnanya tapi tidak suka memakannya. Alasannya satu, makan satu gigitan saja sudah bikin kenyang. Saya ndak tahan dengan rasa manisnya. Jadi, kalau mendapat berkat dan ada isi kue lapisnya, bisanya saya lembar ke anggota keluarga lain yang doyan makan manis-manis. :)))

Masih mau jajanan pasar yang lain?

Kamis, 18 September 2014

Segar, Dingin, Nikmat, tapi Bisa Bikin Sakit Gigi!



Ada bermacam-macam es di Indonesia. Saya tidak mengatakan esnya adalah es batu. Kalau es batu, mah, kebanyakan sama. Tapi ini, olahan yang elemen intinya adalah es batu. Tanpa es batu, minuman-minuman ini rasanya jadi kurang nikmat. Ada banyak es di sini, tapi... yang akan dibahas hanya 3 es saja, yaitu es campur, es dawet, dan es rumput laut.


Siapa yang belum tahu ketiga es di atas? Kurasa semua sudah tahu. Dari ketiganya, yang satu-satunya paling beda adalah es dawet. Sedangkan es campur dan es rumput laut terbilang serupa tapi tak sama. Isian untuk es campur dan es rumput laut terbilang mirip seperti buah-buahan, tapi yang paling membedakan antara kedua es ini, kalau es campur tidak ada rumput lautnya, sedangkan es rumput laut ada raumput lautnya. (iyalah! PLAAAK).

Tapi, kuah santan pada es rumput laut terbilang sedikit encer dan lebih banyak dari pada es campur. Kalau biasa memesan es campur, pastinya esnya yang lebih banyak dari kuahnya. Kalau es rumput laut ini sebaliknya. Nah, untuk es dawet, jelas sangat berbeda dari kedua sepupu jauhnya ini. Dawet malah terdiri dari cendol, air santan, dan gula jawa, serta tape dan es. Sama sekali tidak ada buah. Dari ketiga minuman ini, mana yang kalian sukai? :D

Museum Kartini Jepara


Untuk mengenang jas R.A. Kartini sebagai perintis emansipasi wanita Indonesia, maka pada tahun 1975 Pemerintah Daerah Tingkat II Jepara, atas usulan wakil rakyat dan bantuan dari Presiden Soeharto, mendirikan museum pada tanggal 30 Maret 1975, pada masa pemerintahan Bupati Soewarno Djojomardowo, S.H. dan diresmikan pada tanggal 21 April 1977 oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Jepara, Soedikto, S.H.

Selain menyajikan benda-benda peninggalan R.A. Kartini, Museum ini juga menyajikan warisan budaya yang didapat di daerah Kabupaten Jepara. Museum Kartini merupakan tempat penyimpanan benda-benda peninggalan R.A. Kartini semasa hidupnya serta benda peninggalan kakaknya yaitu RMP Sosrokartono. Selain itu juga menyimpan benda-benda kuno hasil temuan di wilayah Kabupaten Jepara.

Penyajian ruang koleksi dibangi menjadi empat ruangan, yaitu Ruangan I untuk koleksi peninggalan R.A. Kartini berupa benda-benda serta foto semasa masih hidup. Ruang II berisi benda-benda peninggalan RMP Sosrokartono. Ruang III untuk penyajian benda-benda bernilai sejarah dan purbakala yang ditemukan di wilayah Jepara, antara lain arkeologi, keramik, dan juga hasil kerajinan Jepara yang terkenal, antara lain ukir-ukiran, batik troso, keramik, anyaman bambu, dan rotan. Ruang IV berisi tulang ikan raksasa ‘Joko Tuwo’ yang panjangnya kurang lebih 16 meter, yang ditemukan di perairan Kepulauan Karimunjawa pada pertengahan bulan April 1989.

Senin, 15 September 2014

Bersantap Sate Yang Berbeda!

Kenal binatang ini?


Pasti juga sering lihat yang ini juga.


Bagaimana kalau binatang di atas menjadi seperti ini?


Tegakah Anda memakannya?

Yap, sate kelinci. Siapa yang pernah memakannya? Saya pernah memakannya dan rasanya... sebenarnya tidak terlalu buruk. (Ini merupakan pendapat pribadi saya sendiri, lho). Kata orang kebanyakan, sate kelinci itu enak, rasanya mirip daging ayam. Memang benar, mirip daging ayam kok, hanya saja... bila daging ayam sedikit terasa lemaknya, juga agak kenyal. Daging kelinci sendiri kesat, mungkin rasanya mirip seperti dada ayam.

Saya pernah memakannya sekali dan berpikir ulang untuk mencobanya lagi. (Iya, saya beli dan makan buat memuaskan rasa penasaran saya mengenai rasa sate kelinci). Bukan karena tidak enak. Tapi lebih karena kasian, berhubung saya juga pernah memelihara kelinci jenis rex. Sate kelinci banyak ditemui di bandungan. Harganya pun setara dengan seporsi harga sate ayam. Tertarik mencoba?

(Foto diambil dari berbagai sumber)

Masakan Jepang yang Cocok Di Lidah : Warkoshi

Saya dulu sangat penasaran dengan yang namanya sushi. Di zaman tahun 2009, yang namanya makanan luar, entah itu western atau pun asian, dengan harga miring tentu amat jarang dan tidak sebanyak sekarang. Maka dari itu, ketika ada paketan di sebuah kedai makan di food court sebuah perbelanjaan, saya pun dengan senang hati membeli paketan itu. Dan...

Saya kapok makan sushi.

Iya, gara-gara itu saya tidak mau makan sushi untuk beberapa lama, hingga tahun 2014 ini, salah satu sahabat saya memberitahu perihal kedai sushi yang rasanya enak dan miring. Reaksi saya pertama kali dengan ceritanya adalah apatis. Masak iya ada sushi seperti itu? Jujur, kenangan makan sushi dengan rasa asli itu masih melekat kuat di ingatan saya. Namun, teman saya meyakinkan, kalau sushi di kedai itu sangat berbeda! Tidak ada bau cuka, tidak ada ikan mentah, semua rata-rata matang!




Saya masih apatis, tapi mulai tertarik. Kemudian, saya pun datang ke kedai itu yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal saya. Warungnya kecil, areanya sempit, nggak terlihat seperti kedai jepang kebanyakan, kecuali lampion merah di bagian depan. Saya mendadak skeptis melihat tempatnya. Namun, karena penasaran dengan sushi tersebut, saya pun memaksakan diri untuk masuk dan memesan beberapa potong sushi dan YAAAAA....


Ternyata sushinya memang beda! Cocok di lidah! Rasanya sama sekali tidak aneh, bahkan cenderung enak. Sejak saat itu pun, saya jadi langganan di kedai sushi itu, yang tak lain adalah Warkoshi yang berada di jalan Hayam Wuruk, persis di seberang kampus Fakultas Ilmu Budaya-nya UNDIP. Jadi... kalau ingin mencoba makanan luar dan tidak suka aneh-aneh, lebih baik... cari dulu rekomendasi dari teman-teman ya. Jangan sampai kena jebakan betmen seperti saya.


O, ya, harga per-roll sushi ini berkisar antara 9000 – 18.000an, cukup murah kan? Minumannya juga murah-murah. Sayang, pesan satu porsi itu sama sekali nggak mengenyangkan. Selalu ingin makan lebih kalahu sudah menghabiskan sepiring sushi di sana. :)))

Melihat Bintang Dari Atas


      Bagaimana caranya melihat Bintang dari atas? Aneh ya..., masak bisa? Nggak mungkin.
api mungkin kok. Asal titik-titik cahaya di atas dipindah ke bawah. 

Haaah? Serius? Gimana caranya? 
Jadi... bintangnya diganti lampu aja...., kan lebih mudaaaah. *ditendang sampai timbuktu*


Tapi... kata-kata saya tadi bukan main-main. Kita memang bisa melihat Bintang dari atas, apalagi kalau dari tempat-tempat tinggi seperti bukit atau pegunungan. Niscaya, kita bisa melihat deretan lampu-lampu berwarna-warni di tengah kegelapan malam. Orang mengatakan kalau Semarang bukan koa besar, padahal... kota ini aslinya luas dan memiliki kekayaan tempat. Mau ke pantai? Bisa. Mau ke gunung? Bisa, mau ke daerah gua atau dataran rendah, ada juga. Ke bukit? Ada segudang buanyaknya di daerah Semarang. Di sini, tentu yang saya maksud mencakup Semarang kota maupun Kabupaten Semarang.


Sekarang saya mau membicarkan perihal sebuah restoran yang ada di daerah perbukit Semarang, tepatnya di Gombel. Kawasan yang terkenal angker, rawan kecelakaan, dan penuh dengan misteri ini ternyata menyimpan sebuah keindahan jika malam tiba, yaitu... cahaya lampu-lampu. Dari sebuah restoran bernama Alam Indah di sana, kita bisa menikmati sajian masakan rakyat (dengan harga yang tidak merakyat) sambil menonton keindahan kota Semarang bawah. Lampu bersampur dan dari sana kita juga bisa melihat ke arah pelabuhan.

Bagi pasangan muda, tempat ini terbilang cukup romantis dan menyenangkan, apalagi ada band-nya juga. Sayang..., hati-hati dengan isi dompet. Salah-salah, kebanyakan makan malah bikin kantong terkuras habis :))

Jumat, 12 September 2014

Tugu Muda Semarang : Sebuah Monumen Pengingat Masa Lampau




Tugu Muda Semarang merupakan monumen pengingat, mengenai sebuah peristiwa besar di zaman awal kemerdekaan NKRI. Peristiwa ini erat kaitannya dengan para pemuda dan semangat patriotik.

15 Oktober 1945, kota Semarang teramat mencekam. Hal itu tak lain dan bukan karena ketegangan yang terjadi antara BKR (Badan Keamanan Rakyat) dengan tentara Jepang. Berita proklamasi Kemerdekaan Indonesia membuat rakyat Semarang, khususnya, para pemuda, terlibat aksi perlucutan senjata tentara Jepang tanpa kekerasan. Namun, tentara Jepang, yang bermarkas di Jatingaleh, menolak penyerahan senjata, meski Gubernur Jawa Tengah pada waktu itu, Gubernur Wongsonegoro, sudah menjamin bahwa senjata yang diambil tidak akan digunakan untuk melawan Jepang.

Keadaan semakin mencekam. Pertempuran pun tak bisa dielakkan. Pertempuran antara BKR dengan tentara Jepang berlangsung dari Cepiring sampai bisa dipukul mundur ke Jatingaleh. Suasana pun semakin panas, apalagi terdengar kabar bahwa pasukan Jepang akan mengadakan serangan balasan terhadap pemuda Semarang. Banyak yang menjadi korban dalam serangan-serangan yang dilancarkan saat itu, seperti delapan polisi Istimewa yang sedang menjaga sumber air minum bagi warga kota Semarang. Hal ini menimbulkan desas-desus yang meresahkan masyarakat, karena terdengar kabar bahwa Jepang akan meracuni reservoir yang menjadi tempat cadangan air minum di Siranda.

Desas-desus ini pun membawa satu nama lain yang sampai sekarang dikenal oleh masyarakat, yaitu dr. Kariadi. Sebagai kepala Laboratorium Purusara, dr Kariadi mendapat telepon dari pimpinan Pusat Rumah Sakit Rakyat Purusara untuk mengecek kebenaran kabar tersebut. Istri dr. Kariadi telah mencegah suaminya untuk pergi ke reservoir tersebut, tapi dr. Kariadi berpendapat lain. Beliau tetap pergi ke sana dan mengecek keadaan. Tentara Jepang pun membunuh beliau dengan keji.

Berita terbunuhnya dr. Kariadi menyulut kemarahan rakyat Semarang dan pertempuran pun meluas ke berbagai penjuru kota. Pertempuran berakhir setelah kedatangan tentara Sekutu yang mendarat di pelabuhan Semarang sehingga mempercepat perdamaian antara Jepang dan rakyat. Pertempuran yang berlangsung selama lima hari ini memakan korban sekitar 2000 pihak Indonesia dan 850 tentara Jepang.

Tugu Muda merupakan monumen pengingat pertempuran 5 hari ini. Sekarang, kawasan Tugu Muda menjadi pusat berkumpulnya muda-mudi untuk berekreasi dan berkumpul